Openai/69677952-d6b0-8012-93eb-a59431a4ad8c


This conversation was exported from ChatGPT[1]

gpt-5-2 edit

User: Ada yg nanya gini di sosmed: edit

Ada yg nanya gini di sosmed: Di otakku ada satu pertanyaan besar banget: kok bisa sih, sesama perempuan tega menyakiti perempuan lain?

Can you explain?

Assistant: Bisa. edit

Bisa. Dan ini jawabannya nggak manis, tapi jujur.

Pertanyaan “kok bisa sesama perempuan tega menyakiti perempuan lain?” itu sering muncul karena kita menganggap perempuan sebagai satu kubu yang otomatis saling melindungi. Padahal realitanya: perempuan dibesarkan di sistem yang tidak dirancang untuk solidaritas, tapi kompetisi.

Beberapa lapis penjelasannya:

1. Internalized misogyny edit

Perempuan hidup lama di dunia yang:

  • menilai perempuan dari approval eksternal (laki-laki, status sosial, moral)
  • memberi “hadiah” pada perempuan yang paling patuh pada standar

Akibatnya:

perempuan belajar menilai perempuan lain dengan kacamata sistem yang menindas dirinya sendiri.

Saat ada perempuan yang:

  • lebih bebas
  • lebih berani
  • lebih tidak bisa dikontrol

itu terasa seperti ancaman eksistensial, bukan sekadar beda pilihan.

2. Scarcity mindset edit

Dari kecil, perempuan sering diajari (implisit):

  • “yang cantik cuma satu”
  • “yang dipilih cuma satu”
  • “yang dianggap baik cuma satu”

Jadi perempuan lain bukan dilihat sebagai sesama manusia, tapi sebagai:

kompetitor atas sumber daya yang terbatas
(pengakuan, cinta, rasa aman, validasi)

Dalam mindset ini, menjatuhkan perempuan lain terasa seperti strategi bertahan hidup, bukan kekejaman.

3. Proximity to power edit

Karena akses perempuan ke kekuasaan struktural terbatas, banyak yang mencari kuasa lewat kedekatan:

  • jadi “perempuan baik”
  • jadi “yang paling bermoral”
  • jadi “yang paling pantas”

Menyakiti perempuan lain—secara sosial, reputasi, gosip—adalah cara cepat untuk:

menaikkan posisi tanpa harus melawan sistem di atasnya
4. Unprocessed trauma edit

Banyak perempuan tidak pernah diberi ruang aman untuk marah. Marah pada sistem → berbahaya. Marah pada figur berkuasa → berisiko.

Yang paling aman?

melampiaskan ke perempuan lain.

Trauma yang tidak diolah akan selalu mencari sasaran yang aman.

5. Mitos “perempuan itu empatik secara alami” edit

Ini mitos romantis. Empati itu skill, bukan bawaan gender.

Perempuan bisa sangat kejam ketika:

  • empatinya dipersempit oleh ketakutan
  • moralitasnya dipakai sebagai senjata
  • identitasnya dibangun di atas superioritas semu
Intinya: edit

Perempuan bisa menyakiti perempuan lain bukan karena mereka “jahat”, tapi karena:

  • mereka bertahan hidup di sistem yang mengadu-domba
  • mereka belum (atau tidak mau) keluar dari logika itu

Dan yang paling pedih:

korban dan pelaku sering berasal dari luka yang sama.

Kalau mau ditutup satu kalimat: Sesama perempuan bisa saling melukai karena solidaritas tidak otomatis lahir dari kesamaan gender—ia lahir dari kesadaran.

Kalau kamu mau, aku juga bisa bantu versi jawaban singkat buat komentar sosmed (yang pedas, yang netral, atau yang akademis).

References edit

  1. "Internalized Misogyny dan Kompetisi". ChatGPT. Retrieved 2026-01-15.